Pada artikel sebelumnya, kami membahas bagaimana banyak seller terjebak dalam perang harga karena tidak memahami cara kerja algoritma marketplace.
Marketplace bukan sekadar tempat jualan.
Ia bekerja seperti mall digital.
Dan algoritma platform bisa menentukan:
- siapa yang mendapat exposure,
- siapa yang muncul di pencarian,
- dan siapa yang akhirnya mendapatkan traffic.
Masalahnya, banyak seller hanya fokus pada harga murah.
Padahal dalam bisnis digital, traffic jauh lebih penting daripada sekadar harga.
Marketplace Selalu Membawa Pengunjung
Coba bayangkan sebuah mall besar.
Meskipun tenant tidak promosi sendiri, pihak mall tetap akan:
- membuat event,
- memasang iklan,
- mengadakan promo,
- dan mendatangkan pengunjung.
Marketplace juga bekerja seperti itu.
Platform seperti Shopee atau TikTok akan terus mendatangkan traffic ke platform mereka.
Artinya, tanpa promosi manual pun sebenarnya toko kita tetap punya peluang dikunjungi pembeli.
Masalah Besarnya: Kompetitor Tidak Ada Habisnya
Berbeda dengan mall fisik yang memiliki keterbatasan tenant, marketplace memiliki barrier entry yang sangat rendah.
Setiap hari akan selalu muncul seller baru.
Tidak ada batas maksimal toko.
Tidak ada kuota tenant.
Akibatnya?
Persaingan menjadi sangat padat.
Dan di titik inilah seller mulai terjebak dalam:
- perang harga,
- margin tipis,
- dan persaingan tanpa akhir.
Ada Cara Keluar dari Sistem Marketplace
Banyak seller merasa pesimis karena:
- tidak kuat bayar iklan,
- tidak kuat ikut promo,
- atau margin terlalu terpotong fee platform.
Padahal sebenarnya ada alternatif lain.
Kuncinya ada di satu kata:
<div style=”padding:20px 24px;border-left:4px solid #111827;background:#f8fafc;border-radius:12px;margin:28px 0;”> <strong>Traffic.</strong> </div>
Jika seller ingin “keluar” dari ketergantungan algoritma marketplace, maka seller harus bisa membawa traffic dari luar platform.
Social Media Bisa Menjadi Sumber Traffic
Customer journey tidak selalu dimulai dari marketplace.
Hari ini, banyak pembeli justru datang dari:
- TikTok,
- Instagram,
- Facebook,
- YouTube,
- bahkan komunitas online.
Karena itu, social media bisa menjadi mesin traffic yang sangat besar.
Ada dua pendekatan yang umum digunakan:
1. Organic Traffic
- Konsisten posting konten
- Branding yang kuat
- Edukasi pasar
- Membangun audience
2. Paid Traffic
- Meta Ads
- TikTok Ads
- KOL / influencer
- Paid campaign lainnya
Namun ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Traffic dari social media biasanya bersifat cold traffic.
Artinya, audience belum tentu langsung percaya atau membeli.
Karena itu diperlukan:
- branding,
- edukasi,
- dan komunikasi yang konsisten.
Kenapa Ada Brand yang Tidak Ikut Perang Harga?
Beberapa brand besar justru tidak terlalu bergantung pada promo marketplace.
Mereka tidak sibuk menurunkan harga.
Sebaliknya, mereka:
- memperkuat branding,
- membangun audience,
- menjaga kualitas produk,
- dan meningkatkan public relation.
Bahkan sebagian brand rela “bakar uang” di:
- KOL,
- social media campaign,
- Meta Ads,
- dan branding.
Tujuannya bukan mencari penjualan cepat.
Tetapi membangun:
persepsi dan demand.
Dan ketika demand sudah terbentuk, brand tidak perlu ikut perang harga.
Kesimpulan
Dalam bisnis marketplace, ada dua sumber traffic utama:
1. Traffic dari Platform
Didapat dari:
- algoritma,
- promo,
- campaign,
- dan iklan marketplace.
2. Traffic dari Luar Platform
Didapat dari:
- social media,
- branding,
- konten,
- komunitas,
- dan audience sendiri.
Seller bisa memilih salah satu.
Namun jika ingin pertumbuhan lebih cepat, biasanya kedua strategi digunakan secara bersamaan.
Artikel Selanjutnya
Di artikel berikutnya, kami akan membahas:
Kenapa produk makanan bisa ramai di TikTok Shop tetapi sering struggle di Shopee?
Subscribe newsletter untuk mendapatkan insight bisnis digital lainnya.